MAHATVA.ID - Langkah kaki saya menjejak perlahan di jalur tanah yang basah. Kabut turun tipis, menutup sebagian pandangan hutan. Di antara usaha menjaga ritme napas, sebuah teriakan kecil dari belakang memecah keheningan.

“Eh, sebentar, guys—sepatu gue copot!”

Kami berhenti serempak. Sol sepatu teman saya menggantung setengah lepas; sedikit saja ia bisa tersungkur. Momen yang seharusnya menyebalkan justru menghadirkan tawa—hadiah kecil di tengah rasa lelah. Insiden ini kelak menjadi cerita yang paling sering kami ulang dalam perjalanan menuju Kawah Ratu, salah satu destinasi sport tourism paling menantang di Kabupaten Bogor.

Perjalanan dimulai sejak pukul enam pagi. Dua jam menuju basecamp Pasir Reungit dilewati dengan jalan yang relatif lengang. Udara dingin pagi hari dan pepohonan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menyambut kami dengan aroma hutan yang segar. Setibanya di basecamp, para pendaki tampak sibuk memeriksa perlengkapan. Rombongan saya—sebagian besar pendaki pemula—berusaha merapikan napas sebelum benar-benar menyerahkan diri pada jalur pendakian.

Langkah awal di jalur Pasir Reungit masih terasa bersahabat. Tanah padat, pepohonan rapat menaungi kiri dan kanan, dan suara burung hutan menemani perjalanan. Namun beberapa kilometer kemudian, jalur mulai menunjukkan watak aslinya. Tanah licin sisa hujan, titik-titik “jeblok” yang mudah amblas, serta batu-batu besar memaksa kami melangkah lebih hati-hati.

Di tengah perjalanan, kami tiba di titik populer bernama Sungai Biru. Warna airnya yang biru terang—akibat kandungan mineral alami—biasanya menjadi daya tarik utama. Namun hari itu area tersebut dipagari tali pembatas. Debit air meningkat dan kadar belerang dikabarkan lebih tinggi dari biasanya.

Kami tak bisa mendekat, tapi warna biru yang tetap terlihat dari kejauhan sudah cukup meninggalkan kesan. Alam, rupanya, selalu punya aturan yang harus dihormati.

Bagian paling dramatis muncul saat kami memasuki Hutan Mati. Pohon-pohon hitam tanpa daun berdiri kaku, seperti monumen sunyi sisa aktivitas vulkanik Gunung Salak. Cahaya matahari menembus sela batang, menciptakan bayangan panjang yang terasa asing sekaligus indah. Aroma belerang mulai samar tercium—pertanda Kawah Ratu sudah dekat.

Dari Hutan Mati, jalur menanjak semakin curam. Napas memendek, kaki terasa berat, namun rasa penasaran memberi dorongan tambahan. Ketika akhirnya tiba, Kawah Ratu menyambut dengan lanskap yang kuat sekaligus mengintimidasi. Asap sulfur mengepul dari beberapa titik. Tanah berwarna putih keabu-abuan dengan sentuhan kuning kehijauan—warna khas belerang. Ada jalur yang boleh dilewati, ada batas yang tak boleh disentuh.