Bogor, MAHATVA.ID – Kabupaten Bogor tengah mempersiapkan langkah besar untuk menjadi kota film edukatif pertama di Indonesia. Melalui Festival Film Kabupaten Bogor, sebanyak 40 kecamatan akan terlibat aktif dalam produksi 40 film pendek bertema edukasi setiap tahunnya. Festival ini dijadwalkan digelar pada November 2025, dengan puncak acara penganugerahan di Gedung Auditorium Setda Kabupaten Bogor.

Penggagas Festival Film Kabupaten Bogor, TB. Ule Sulaeman, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar ajang kreatif, melainkan juga menjadi sarana membangun budaya baru di kalangan generasi muda Kabupaten Bogor.

“Setiap tahun, tema festival akan berfokus pada edukasi. Mulai dari pemahaman Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, budaya gotong royong, hingga memperkuat nilai kasih sayang antar sesama,” ujar Ule.

Menurutnya, melalui film pendek yang dibuat oleh masing-masing kecamatan, pesan-pesan edukatif dapat disebarkan secara masif ke sekolah-sekolah di Kabupaten Bogor. Hal ini diharapkan mampu menggantikan tontonan tidak mendidik yang marak di platform digital, seperti YouTube, dan menjadi alternatif positif bagi pelajar dan generasi muda.

Festival perdana ini mengusung tema "Edukasi untuk Negeri", sebagai bentuk kontribusi Kabupaten Bogor dalam menciptakan generasi penerus yang memiliki karakter kuat, kreatif, dan cinta tanah air.

Anggota DPRD Kabupaten Bogor, Kang Egi Gunadhi Whibawa, menyambut baik inisiatif ini, “Festival ini akan menciptakan budaya baru di Kabupaten Bogor. Anak-anak muda akan lebih kreatif dan terarah. Kita butuh program seperti ini untuk merubah pola pikir generasi muda dengan kegiatan positif,” katanya.

Konsep utama dari festival ini adalah “Satu Kecamatan, Satu Film”. Setiap kecamatan didorong untuk membentuk komunitas film lokal, mengasah bakat sineas muda, dan memproduksi film-film yang sesuai dengan nilai-nilai pendidikan dan budaya lokal.

TB. Ule Sulaeman juga mengajak berbagai pihak—baik pemerintah, sekolah, komunitas, hingga sektor swasta—untuk bersinergi dalam mendukung kelahiran karya-karya sinematik yang membangun dan mencerdaskan.

“Ini bukan sekadar lomba film, tapi gerakan budaya. Kita sedang menanam benih perubahan lewat media yang sangat dekat dengan anak muda: film. Kuta udaya wangsa!” pungkasnya.