MAHATVA.ID - Setelah cukup lama terjebak dalam tren stagnasi, sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia mulai menunjukkan sinyal kebangkitan. Grafik lifting nasional perlahan bergerak naik, memantik diskusi hangat di kalangan parlemen hingga pelaku industri.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, secara terbuka membahas perkembangan tersebut dalam podcast Bukan Abuleke. Ia menegaskan bahwa peningkatan produksi migas bukanlah hasil “sulap”, melainkan buah dari kerja panjang eksplorasi, pengembangan lapangan, serta pemanfaatan teknologi.

“Peningkatan produksi tetap membutuhkan upaya eksplorasi dan pengembangan lapangan baru. Kami mencatat kebutuhan tambahan puluhan sumur untuk mengejar target produksi nasional,” ujar Djoko.

Pernyataan ini sekaligus menjawab pertanyaan Anggota Komisi XII DPR yang meminta SKK Migas membuka “dapur data” di balik kenaikan lifting migas. Djoko menegaskan, seluruh data yang disampaikan merupakan data institusional resmi dan menjadi rujukan kebijakan negara.

2026 Jadi Tahun Sibuk Hulu Migas

Djoko mengungkapkan, tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode yang sangat padat bagi sektor hulu migas. SKK Migas menargetkan delapan proyek hulu migas akan mulai beroperasi (onstream) sepanjang tahun ini.

Dengan nilai investasi mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat, proyek-proyek tersebut diharapkan menjadi “amunisi” baru untuk menopang ketahanan energi nasional sekaligus menjaga momentum kenaikan lifting.

Gas Masela Dikebut, AMDAL Jadi Kunci

Di sisi lain, percepatan proyek gas raksasa Masela (Blok Abadi) terus didorong agar segera masuk tahap konstruksi. Djoko menekankan bahwa proyek strategis ini akan bergerak setelah seluruh proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) diselesaikan.