BOGOR, MAHATVA.ID — Suasana pagi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong terasa berbeda, Selasa (21/10/2025). Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun dari Masjid At-Taubah, menciptakan suasana khusyuk yang menyelimuti lingkungan lapas.
Para warga binaan yang kini berstatus santri tampak khidmat mengikuti kegiatan tahfiz Al-Qur’an dan kajian kitab kuning sebagai bagian dari pembinaan keagamaan intensif.

Program ini merupakan bagian dari Pesantren At-Taubah, sebuah wadah pembinaan Islam yang menjadi ikon dan kebanggaan Lapas Cibinong. Tidak sekadar menghafal ayat-ayat suci, para santri juga diajak memahami nilai-nilai moral dan hukum Islam dari kitab klasik, membuka jalan menuju transformasi diri secara spiritual dan intelektual.

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Binadik) Lapas Cibinong menegaskan, kegiatan pesantren ini merupakan langkah strategis dalam membentuk kepribadian warga binaan agar lebih baik dan berakhlak mulia.

“Pembinaan keagamaan seperti tahfiz dan kajian kitab kuning menjadi sarana membangun kesadaran diri dan memperkuat moral warga binaan. Harapannya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang sabar, ikhlas, dan siap memperbaiki diri,” ujarnya.

Kepala Lapas Kelas IIA Cibinong juga menyampaikan bahwa pesantren di dalam lapas bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga wadah pemulihan spiritual dan pembentukan akhlak mulia.

“Pesantren At-Taubah menanamkan nilai-nilai kebaikan dan pembelajaran hidup. Kami ingin setiap warga binaan yang keluar dari lapas tidak hanya bebas secara fisik, tetapi juga merdeka secara batin dan siap menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Selain tahfiz dan kajian kitab kuning, kegiatan pesantren juga meliputi tadarus, tafsir tematik, ibadah berjamaah, dan pembinaan karakter Islami. Menariknya, sebagian kegiatan ini dipandu oleh ustaz dari kalangan warga binaan yang memiliki kompetensi keagamaan, sehingga menciptakan ekosistem pembinaan yang mandiri, partisipatif, dan inklusif.

Melalui program ini, Lapas Cibinong menegaskan komitmennya menjadikan pembinaan spiritual sebagai pilar utama proses reintegrasi sosial, agar setiap warga binaan mampu kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, beriman, dan bermakna.