Bogor, MAHATVA.ID – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong menerima kunjungan studi tiru dari Tim Direktorat Watkeshab Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) serta jajaran petugas Lapas Kelas I Tangerang. Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari inovasi pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot yang dikembangkan oleh Lapas Cibinong dalam mendukung program lingkungan berkelanjutan, Jumat (10/10/2025).

Kedatangan rombongan dipimpin oleh Lily Pendiawaty, Kasubdit Kebutuhan Dasar dan Kesehatan Lingkungan Ditjen PAS, dan disambut langsung oleh Kepala Lapas Kelas IIA Cibinong, Wisnu Hani Putranto, beserta jajaran.

Dalam sambutannya, Wisnu Hani Putranto menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Ditjen PAS yang menjadikan Lapas Cibinong sebagai salah satu lokasi percontohan dalam pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot.

“Lewat budidaya maggot ini, kami tidak hanya mengurangi volume sampah organik, tetapi juga menghasilkan pakan ternak alami dan pupuk organik yang bisa dimanfaatkan warga binaan untuk kegiatan ketahanan pangan. Inilah kontribusi kami dalam mendukung program Zero Waste,” ujar Wisnu.

Selama kunjungan berlangsung, tim Ditjen PAS dan jajaran Lapas Tangerang mendapatkan penjelasan teknis mengenai proses pengolahan sampah organik yang diolah menjadi pakan maggot. Mereka juga meninjau langsung area pengolahan yang berlokasi di area pembinaan kemandirian Lapas Cibinong, di mana sisa makanan dan limbah organik diolah secara efisien.

Inovasi budidaya maggot ini tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah di lingkungan Lapas, tetapi juga mendukung program ketahanan pangan nasional sesuai dengan arah kebijakan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Hasil panen maggot digunakan sebagai pakan ikan dan ternak alami, sementara sisa pengolahannya dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk mendukung kegiatan pertanian dan hidroponik warga binaan.

Kasubdit Kebutuhan Dasar dan Kesehatan Lingkungan Ditjen PAS, Lily Pendiawaty, turut mengapresiasi konsistensi Lapas Cibinong dalam menjalankan program yang memadukan aspek pembinaan dan pelestarian lingkungan.

“Program ini bisa menjadi contoh bagi UPT Pemasyarakatan lainnya. Tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi warga binaan dalam mengasah keterampilan dan mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat,” ujar Lily.

Melalui kegiatan studi tiru ini, Ditjen PAS berharap kolaborasi antar satuan kerja pemasyarakatan dapat terus berkembang guna mewujudkan lembaga pemasyarakatan yang inovatif, ramah lingkungan, dan berkontribusi positif bagi masyarakat luas.