BOGOR, MAHATVA.ID — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong kembali menjadi tujuan pembelajaran lapangan bagi kalangan akademisi. Kali ini, ratusan mahasiswa Fakultas Sosial dan Hukum Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melakukan kegiatan studi lapangan sebagai bagian dari proses pembelajaran di luar kampus, Senin (27/10/2025).

Kedatangan para mahasiswa disambut hangat oleh jajaran pejabat struktural dan petugas Lapas Cibinong. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa diajak berkeliling meninjau sejumlah fasilitas seperti Ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), area kunjungan, Klinik Pratama, Balai Latihan Kerja (BLK), Dapur Sahabat, serta Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).

Kepala Lapas Cibinong, Wisnu Hani Putranto, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Lapas Cibinong sebagai lokasi kegiatan pembelajaran lapangan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana penting bagi mahasiswa untuk memahami sistem pemasyarakatan, pola pembinaan warga binaan, serta fungsi sosial Lapas dalam masyarakat.

“Kami sangat terbuka terhadap kegiatan studi lapangan seperti ini. Melalui kunjungan langsung, mahasiswa dapat memahami bahwa Lapas bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga tempat pembinaan dan pemberdayaan bagi warga binaan,” ujar Wisnu.

Selama kegiatan, Kalapas juga menjelaskan berbagai aspek pemasyarakatan, mulai dari tugas dan fungsi lembaga, program pembinaan kepribadian dan kemandirian, hingga capaian kinerja Lapas Cibinong yang dikenal sebagai salah satu UPT Pemasyarakatan terbaik di Indonesia.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Sosial dan Hukum UNJ, Prof. Dr. Ciek Julyati Hisyam, menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan yang diberikan oleh Lapas Cibinong. Ia menilai kunjungan tersebut memberikan pengalaman belajar yang tidak dapat diperoleh hanya melalui teori di kelas.

“Terima kasih telah mengizinkan kami berkunjung dan belajar langsung di Lapas Cibinong, yang merupakan salah satu satuan kerja Pemasyarakatan terbaik saat ini. Semoga kegiatan ini membuka pemahaman mahasiswa terhadap sistem sosial yang terjadi di lingkungan Lapas,” ujarnya.

Perwakilan mahasiswa, Jihan, juga menyampaikan kesan positif atas pengalaman belajar langsung di lingkungan pemasyarakatan.

“Awalnya kami mengira suasana di Lapas itu menegangkan, tetapi ternyata suasananya sangat humanis dan penuh kegiatan positif. Kami jadi memahami bagaimana pembinaan dilakukan secara nyata,” ungkapnya.