Jakarta, MAHATVA.ID — Dalam upaya memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan di tingkat desa, program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang diinisiasi pemerintah menjadi harapan besar bagi transformasi ekonomi komunitas. Namun, untuk menghindari jebakan mentalitas proyek dan birokrasi top-down, koperasi desa di Indonesia perlu belajar dari model sukses koperasi konsumen terbesar di Jepang, Japanese Consumers’ Co-operative Union (JCCU).

Hal ini disampaikan oleh Muhammad Sirod, Fungsionaris Kadin Indonesia sekaligus Ketua Umum HIPPI Jakarta Timur, dalam kajiannya yang dirilis pada Senin (21/7/2025). Ia menegaskan bahwa KDMP harus menghindari pola koperasi semu dan instruksi satu arah yang tidak melibatkan partisipasi aktif dari anggotanya.

"JCCU sukses bukan karena bantuan pemerintah semata, tapi karena membangun koperasi yang benar-benar dikelola anggotanya. Kita perlu menanamkan semangat ini agar KDMP tidak jadi koperasi ‘zombie’ yang hanya hidup saat proyek dimulai," ujar Sirod.

Belajar dari Model JCCU Jepang: Demokrasi Ekonomi yang Tumbuh dari Akar Rumput

Didirikan tahun 1951, JCCU kini menjadi federasi nasional koperasi konsumen dengan lebih dari 30 juta anggota dan omzet tahunan mencapai Rp343 triliun. Sukses besar JCCU tidak lepas dari prinsip tata kelola demokratis, partisipasi anggota aktif, serta efisiensi layanan—termasuk sistem home delivery yang terbukti efektif bahkan saat pandemi COVID-19 melanda.

Koperasi ini juga menjadi pelopor konsumsi etis, produk ramah lingkungan, serta layanan berbasis teknologi digital. Mereka menjalankan sistem sanchoku (direct farm-to-table) untuk memangkas rantai pasok dan memperkuat kemitraan langsung dengan petani lokal—model yang saat ini juga diadopsi oleh Presiden Prabowo dalam misi reformasi distribusi pangan nasional.

Tantangan KDMP: Jangan Sampai Jadi Etalase Proyek Pemerintah

Menurut Sirod, tantangan besar koperasi di Indonesia saat ini adalah minimnya rasa kepemilikan anggota, kurangnya inovasi layanan, serta ketergantungan pada sistem instruksi pusat. Pola seperti ini berisiko membuat koperasi cepat mati suri begitu proyek berakhir.

"Kita butuh transformasi, bukan sekadar koperasi pemasaran. KDMP harus menjadi koperasi produksi, koperasi nelayan, koperasi susu, atau koperasi berbasis simpan pinjam. Kita punya Telkom, GovTech, dan SDM hebat—kenapa tidak dimanfaatkan untuk transformasi koperasi digital di desa?" tegasnya.