MAHATVA.ID – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan pentingnya transformasi pengawasan ketenagakerjaan yang berfokus pada perubahan pola pikir (mindset) dan budaya kerja. Hal ini dinilai krusial untuk menjaga marwah, kehormatan, dan kepercayaan publik terhadap pengawasan ketenagakerjaan serta penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
“Profesionalitas dan integritas adalah faktor kunci dari pengawasan ketenagakerjaan. Kembali ke marwah dasar pengawasan, bahwa pengawas adalah garda terdepan pelindungan hak pekerja dan penjamin kepatuhan norma kerja,” ujar Yassierli dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (22/9/2025).
Menaker mengingatkan jajaran pengawas agar tetap fokus pada tiga tugas inti saat turun ke lapangan: investigasi, edukasi, dan penegakan hukum.
“Baju yang kita pakai menggambarkan marwah, menggambarkan harapan dari yang mendesain seorang pengawas ketenagakerjaan, sekaligus amanah dan tantangan terkait penegakan norma K3 yang semakin besar,” tegasnya.
Laporan Pelanggaran K3 Masih Tinggi
Yassierli mengaku menerima banyak laporan terkait penegakan norma K3 di berbagai perusahaan, mulai dari penahanan ijazah, PHK sepihak, diskriminasi, upah di bawah standar, hingga praktik outsourcing yang merugikan pekerja.
“Itu semua kezaliman. Kalau kita tak bisa bergerak, buka baju itu. Saya juga komitmen, kalau tak bisa ya sudah, saya akan mengundurkan diri. Buat apa saya jadi menteri, kemudian tak memberikan kontribusi bagi negara,” kata Yassierli dengan tegas.
Tinggalkan Warisan Positif
Menaker pun mengajak seluruh pengawas ketenagakerjaan untuk meninggalkan warisan positif dalam sejarah pengawasan di Indonesia.




