Jakarta, MAHATVA.ID – Pengamat Industri Pangan dan Pertanian sekaligus Dewan Pakar ASPEBINDO (Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia), Muhammad Sirod, menyoroti serius maraknya praktik tambang ilegal yang menyebabkan kebocoran besar terhadap pendapatan negara. Ia menyebut, kebocoran ekonomi akibat tambang ilegal di Bangka Belitung merupakan tamparan keras bagi tata kelola sumber daya mineral nasional.
“Bayangin, satu provinsi kecil seperti Bangka Belitung bisa bikin negara bocor sampai tiga ratus triliun rupiah. Ini menyakitkan,” tegas Sirod saat ditemui di Jakarta, Jumat (10/10/2025).
Pernyataan Sirod selaras dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto, yang dalam kunjungannya ke Bangka menyebut potensi kerugian negara akibat tambang ilegal bisa mencapai Rp300 triliun. Adapun nilai barang rampasan yang telah disita pemerintah — terdiri atas enam smelter, timbunan logam, dan peralatan tambang — ditaksir mencapai Rp6 hingga Rp7 triliun.
“Saya lega Presiden turun langsung. Tapi masalahnya bukan cuma soal korupsi, melainkan sistem yang membiarkan kebocoran sebesar itu terjadi,” ujarnya.
Bangka Belitung menjadi salah satu provinsi dengan cadangan sumber daya alam terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian ESDM, provinsi tersebut menyimpan sekitar 91 persen cadangan timah nasional, atau lebih dari 2,1 juta ton bijih timah di hampir 500 titik tambang aktif.
Namun di balik kekayaan itu, terdapat potensi lain yang belum dikelola secara optimal, yakni logam strategis masa depan: rare earth atau unsur tanah jarang.
“Di sana diperkirakan ada empat puluh ribu ton monasit. Itu bahan baku baterai, magnet, dan komponen energi bersih dunia. Tapi kita biarkan bocor ke luar negeri tanpa nilai tambah. Menyedihkan,” ungkap Sirod.
Sebagai dewan pakar di asosiasi yang bergerak di bidang energi dan mineral, Sirod menegaskan perlunya paradigma baru dalam pengelolaan tambang.
“Transisi energi itu bukan slogan. Tapi kalau mau bersih, ya bersihkan dulu hulunya. Jangan sampai energi hijau dibangun di atas tambang yang korup,” katanya.


