MAHATVA.ID -Langit Fordata yang bergradasi biru-keperakan menjadi latar sakral pelaksanaan Panas Pela pada Jumat (28/11). Desa Romean kembali menghidupkan tradisi agung yang mengikat dua negeri tua, Sofyanin dan Romean. melalui prosesi adat Tnabar Ilaa, sebuah ritual leluhur yang diwariskan lintas generasi sebagai peneguh jalinan persaudaraan.

Prosesi dibuka secara resmi oleh tetua adat Romean, sebelum dentuman tifa dan gong menggema dari barisan Anak Adat Sofyanin. Mereka menelusuri jalan utama sambil membawa perlengkapan sakral, baki gong, tifa, dan tombak adat Laisana, yang ditancapkan sebagai penanda dimulainya peragaan ritual Tnabar.

Di halaman tugu adat Romean yang dipenuhi hiasan bale-bale, suara tifa, gong, serta lantunan ratapan sol bareat menggema ketika Anak Adat Sofyanin berdiri berdampingan mengenakan busana adat Tanimbar. Setiap perwakilan dari masing-masing mata rumah menjalankan peran yang telah diamanatkan, bekerja selaras untuk memastikan seluruh rangkaian prosesi Ridwal Tnabar Ilaa berlangsung tertib, mulus, dan mencapai puncak sakralnya.

Tnabar Ilaa dipentaskan dengan penuh khidmat. Setiap gerak dan dentuman ritmisnya tidak hanya membangkitkan kembali memori leluhur, tetapi juga meneguhkan sumpah Pela yang telah mengikat dua desa di Fordata sejak awal sejarah mereka. 

Kehadiran masyarakat Adat Sofyanin dalam balutan adat luhur menggarisbawahi bahwa Pela bukan sekadar hubungan sosial, melainkan ikatan darah yang dijaga sebagai komitmen suci dua rumah besar yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kepala Desa Romean menyebutkan, Panas Pela merupakan amanah leluhur yang wajib dijaga. Tradisi ini dianggap sebagai dasar kehidupan orang Fordata yang selalu mengingatkan bahwa kedua desa berasal dari satu garis keturunan.

“Tnabar Ilaa bukan sekadar acara adat. Ia adalah denyut sejarah Tanimbar. Pemerintah desa harus memastikan tradisi ini tetap bertahan,” ujarnya.

Untuk diketahui, Pemerintah Desa Romean dan Sofyanin bergerak bersama sejak persiapan hingga pelaksanaan. mengatur logistik, penyambutan, pengamanan, serta memastikan koordinasi penuh dengan para tetua adat. Sinergi ini menunjukkan bahwa Pela bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan komitmen kolektif.

Pada momen bersejarah itu, Anak Adat Desa Sofyanin kembali menekankan kedalaman tradisi mereka melalui tarian sakral Tnabar Ilaa yang dipentaskan lengkap dalam tiga tahap: Tnabar Iyaan, Ifruan, dan Iwarin.