Bogor, MAHATVA.ID – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong melaksanakan panen selada hidroponik sebanyak 45 kilogram di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), Senin (5/1/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mewujudkan kemandirian pangan melalui sektor pertanian, perikanan, dan peternakan di Lapas dan Rutan.
Panen selada hidroponik tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan berkelanjutan dengan menerapkan sistem pertanian tanpa tanah (hidroponik). Dalam program ini, warga binaan dilibatkan secara aktif mulai dari penyemaian benih, pengaturan nutrisi dan aliran air, perawatan tanaman, hingga proses panen.
Program hidroponik ini tidak hanya membekali warga binaan dengan keterampilan teknis pertanian, tetapi juga memperkenalkan teknologi pertanian modern yang efisien dan ramah lingkungan, serta memiliki nilai ekonomis tinggi.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Kelas IIA Cibinong, Tunggadewi Ratu Wardhani, menyampaikan bahwa penerapan sistem hidroponik di SAE merupakan bentuk adaptasi pembinaan terhadap perkembangan teknologi pertanian saat ini.
“Melalui budidaya selada hidroponik, kami ingin membekali warga binaan dengan keterampilan pertanian modern yang memiliki nilai ekonomis dan peluang usaha setelah mereka kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Cibinong, Wisnu Hani Putranto, menegaskan bahwa kegiatan panen selada hidroponik menjadi bukti komitmen Lapas Cibinong dalam menghadirkan pembinaan yang produktif dan berorientasi pada kemandirian warga binaan.
“Program hidroponik ini bukan sekadar mengisi waktu, tetapi membekali warga binaan dengan keterampilan nyata yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Pembinaan harus mampu menciptakan perubahan dan kemandirian,” tegas Wisnu.
Salah seorang warga binaan berinisial SR mengaku bangga dapat terlibat langsung dalam program hidroponik tersebut. Menurutnya, pembinaan ini memberikan pengalaman dan pengetahuan baru yang sangat bermanfaat untuk masa depan.
“Kami belajar bertani dengan sistem hidroponik yang sebelumnya belum pernah kami kenal. Kegiatan ini membuat kami lebih produktif dan memberi harapan untuk membuka usaha atau bekerja di bidang pertanian setelah bebas nanti,” tuturnya.




