Bogor, MAHATVA.ID — Bupati Bogor Rudy Susmanto menyatakan bahwa pengoperasian Pasar Petani Garuda merupakan langkah awal Pemerintah Kabupaten Bogor dalam menghidupkan kembali pasar petani sebagai wadah pemasaran hasil pertanian lokal.
“Pasar Petani Garuda ini memang masih sederhana dan pembangunannya baru sekitar 50 persen. Namun ini adalah langkah awal dan menjadi pilot project, karena petani Kabupaten Bogor tidak hanya ada di Cibinong, tetapi tersebar di seluruh wilayah,” ujar Rudy.
Menurutnya, Kabupaten Bogor memiliki potensi pertanian yang sangat besar dan beragam, mulai dari petani buah, tanaman hias, hingga sentra ikan konsumsi dan ikan hias. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen menjadikan Pasar Petani Garuda sebagai momentum pemanfaatan lahan tidur milik pemerintah agar kembali berfungsi untuk kepentingan masyarakat.
Pemkab Bogor Gencarkan Gotong Royong dan Penghijauan Jelang Ramadan, Targetkan Satu Hektare Hutan Kota per Kecamatan
“Kami ingin lahan-lahan tidur milik pemerintah daerah benar-benar dimanfaatkan untuk rakyat, khususnya untuk mendukung petani lokal,” tegasnya.
Rudy menjelaskan, para petani yang berjualan di Pasar Petani Garuda hanya dikenakan biaya administrasi sebesar Rp100.000 per tahun. Biaya tersebut bukan untuk tujuan komersial, melainkan untuk pendataan dan mencegah praktik jual beli lapak.
“Ini murni administrasi. Tujuannya agar pedagang terdata dengan baik dan tidak ada penyalahgunaan lapak,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa penataan Pasar Petani Garuda merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam merapikan infrastruktur pelayanan publik sekaligus memberikan kepastian usaha bagi para petani.
Lebih lanjut, Rudy menyampaikan bahwa Pemkab Bogor memiliki program pembangunan taman, hutan kota di setiap kecamatan dan desa, serta pengembangan desa sentra buah di 416 desa dan 19 kelurahan.
“Bukan soal lombanya, tetapi bagaimana Kabupaten Bogor menjadi hijau dan setiap desa memiliki ketahanan pangan serta produk unggulan,” ujarnya.




