Jakarta, MAHATVA.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali membuktikan efektivitasnya sebagai instrumen ketahanan pangan nasional saat bencana besar melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Tenaga Ahli BGN sekaligus Wasekjen Gizi DPN HKTI, Muhammad Sirod, menyebut MBG telah menjadi “alat cepat tanggap yang nyata” di tengah runtuhnya sistem pangan lokal akibat bencana.

Menurutnya, program ketahanan pangan selama ini dipandang sebagai jaring pengaman jangka panjang. Namun ketika banjir, longsor, hingga kerusakan infrastruktur terjadi, banyak mekanisme tidak berfungsi optimal.

“Dalam situasi seperti itu, MBG tampil sebagai solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan makan korban yang kehilangan rumah, akses, dan pendapatan,” ujar Sirod.

Hingga November 2025, MBG telah membangun 12.843 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Meski dirancang untuk anak sekolah, ibu hamil, dan balita, dapur ini otomatis berubah menjadi pusat logistik pangan saat bencana.

Data Badan Gizi Nasional (BGN) per 5 Desember 2025 mencatat, 320 dapur SPPG on duty telah diaktifkan sebagai dapur darurat:

  • 105 di Aceh
  • 149 di Sumatera Utara
  • 66 di Sumatera Barat

Dengan kapasitas produksi sekitar 3.000 porsi per dapur per hari, MBG mampu menjangkau korban dalam jumlah besar. Sirod menyebut lebih dari 600.000 pengungsi telah mendapat suplai makanan dari SPPG, termasuk 290.000 paket makanan yang didistribusikan di Sumatera Utara.

“Dapur MBG sudah siap sejak awal. Infrastruktur, tenaga masak, dan logistiknya tinggal dialihkan fungsinya. Tidak perlu bangun dapur darurat baru yang memakan waktu dan biaya,” jelasnya.

Menurut Sirod, keunggulan MBG pada masa krisis ada pada dua hal: aksesibilitas dan mutu pangan.
SPPG tersebar di banyak titik sehingga mudah dijangkau korban tanpa perlu memasak atau membeli makanan, terutama ketika pasar lokal rusak.