Jakarta, MAHATVA.ID – Kinerja perdagangan Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan hasil yang solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Surplus neraca perdagangan tercatat melebar dan pada beberapa bulan mencapai kisaran USD 3–4 miliar, melampaui proyeksi awal. Kondisi ini turut menjaga stabilitas transaksi berjalan Indonesia.
Fungsionaris Kadin Indonesia sekaligus Ketua Umum HIPPI Jakarta Timur, Muhammad Sirod, menilai capaian tersebut mencerminkan ketahanan ekspor nasional, khususnya ekspor nonmigas yang sempat tumbuh tahunan di atas 10 persen pada awal 2025.
“Daya saing ekspor Indonesia masih terjaga, termasuk ke Amerika Serikat, dengan tarif efektif sekitar 19 persen. Selain itu, diversifikasi pasar ke Asia dan kawasan regional membantu menjaga permintaan tetap stabil,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menurut Sirod, dampak langsung kebijakan tarif global terhadap Indonesia relatif terbatas, mengingat porsi ekspor ke Amerika Serikat hanya sekitar 9,9 persen dari total ekspor nasional. Diversifikasi pasar dinilai menjadi faktor kunci dalam meredam gejolak perdagangan internasional.
Dari sisi impor, terjadi perlambatan pada impor bahan baku yang terkontraksi sekitar 4 persen secara tahunan, mencerminkan penyesuaian siklus produksi dan optimalisasi stok. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap pelebaran surplus perdagangan dalam jangka pendek.
Sebaliknya, impor barang modal justru menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, impor mesin dan peralatan tumbuh hingga 15 persen, mengindikasikan aktivitas investasi dan persiapan peningkatan kapasitas produksi, khususnya di sektor manufaktur dan industri pengolahan.
“Perbedaan tren antara impor barang modal dan bahan baku menunjukkan Indonesia berada pada fase awal pembangunan dan ekspansi industri. Fasilitas produksi sedang dipasang, sementara output penuh belum berjalan,” jelasnya.
Meski investasi asing langsung (FDI) secara umum mengalami tekanan dengan penurunan sekitar 7 persen, investasi domestik tetap tumbuh dan menjaga stabilitas pembentukan modal. Bahkan, arus investasi dari China dan Hong Kong tercatat meningkat lebih dari 7 persen, seiring relokasi industri untuk mendekati pasar regional dan menghindari hambatan tarif.
Dalam konteks domestik, Sirod menyoroti Program Makan Bergizi Gratis sebagai peluang strategis untuk mendorong industrialisasi pangan nasional. Program tersebut diperkirakan menciptakan kebutuhan pangan harian dalam skala besar dan berkelanjutan, mencakup beras, protein hewani, sayuran, serta produk olahan.

.png)