SOFYANIN, MAHATVA.ID -Kedatangan Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra, di Desa Sofyanin, Kecamatan Fordata, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Selasa (21/10/2025), berlangsung penuh khidmat dan meriah. Ribuan warga menyemut di gerbang desa untuk menyambut beliau melalui prosesi adat dan tarian laut khas Sofyanin, Snomar Roal. Kehadiran Uskup pada puncak perayaan budaya “Sofyanin Panggil Pulang” dipandang sebagai momentum berharga dalam merawat tradisi leluhur sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Tanimbar.

Sejak pagi, masyarakat bersama para tetua adat telah bersiap menyambut rombongan dengan balutan simbol-simbol budaya lokal. Prosesi adat yang digelar tidak hanya mencerminkan penghormatan kepada tamu agung, tetapi juga menegaskan eratnya keterkaitan antara nilai tradisi dan kehidupan religius masyarakat Sofyanin.

Usai prosesi penyambutan, Uskup bersama rombongan meninjau sekaligus memberkati Jembatan Olat Wadan, infrastruktur baru yang rampung dibangun oleh Pemerintah Desa Sofyanin. Dalam homilinya, Mgr. Seno menekankan makna filosofis jembatan sebagai sarana pemersatu.

Uskup mengutip pesan Paus Yohanes Paulus II, “Tembok memisahkan dan menimbulkan curiga, sedangkan jembatan menghubungkan. Orang Sofyanin adalah tiang-tiang jembatan ini. Semoga dengan diberkatinya Olat Wadan, persaudaraan dan kekeluargaan semakin kokoh dan menjadi jembatan kehidupan.”

Sesuai agenda panitia, rangkaian acara kemudian berlanjut di halaman Gereja Stasi Santo Mikael Sofyanin, di mana Uskup disambut anak-anak Sekami dengan sukacita.

Camat Fordata, Rizal H. Lalaun, menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap acara budaya ini. Menurutnya, Sofyanin Panggil Pulang sejalan dengan program pelestarian kearifan lokal sekaligus promosi pariwisata Tanimbar.
“Budaya adalah kekuatan strategis dalam membangun jati diri. Kegiatan ini memperlihatkan sinergi masyarakat, gereja, dan pemerintah dalam menjaga warisan leluhur,” ujarnya.

Para tetua adat juga menyampaikan makna sakral tarian laut Snomar Roal. Menurut mereka, tarian tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan doa leluhur untuk keselamatan, keberkahan, dan persaudaraan. “Generasi muda harus melestarikan tradisi ini karena ia adalah identitas Sofyanin sekaligus Tanimbar,” tutur seorang tetua adat.

Sementara itu, Ketua Panitia, Krisno Wuarmanuk, mengucapkan apresiasi atas kerja sama semua pihak yang telah memastikan kesiapan acara HUT ke-108 Desa dan Stasi Sofyanin. Ia menilai keterlibatan tetua adat, pemerintah, dan gereja menunjukkan kebersamaan yang kuat demi kesuksesan acara tersebut.

Prosesi penyambutan juga dirangkaikan dengan doa khusus untuk memperingati 24 tahun Imamat Mgr. Seno Ngutra. Turut hadir Ketua DPRD Kepulauan Tanimbar, Kapolres, Asisten III Setda, Camat Fordata, serta Kapolsek Fordata yang ikut memberi dukungan moral bagi jalannya acara.