Jakarta, MAHATVA.ID – Gagasan gentengisasi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dinilai sebagai langkah strategis untuk menumbuhkan industri rakyat berbasis desa sekaligus menyeimbangkan struktur industri nasional. Kebijakan ini mendorong peralihan penggunaan atap rumah dari material logam ringan ke genteng tanah liat yang diproduksi oleh industri kecil dan menengah (IKM) pedesaan.
Pandangan tersebut disampaikan Fungsionaris Kadin Indonesia sekaligus Ketua Umum HIPPI Jakarta Timur, Muhammad Sirod, yang menilai gentengisasi bukan sekadar pilihan material bangunan, melainkan instrumen kebijakan industri yang sengaja dirancang untuk menciptakan permintaan baru (created demand) bagi industri rakyat .
Menurut Sirod, selama ini pasar atap rumah nasional didominasi material berbasis logam seperti seng dan zincalume yang diproduksi industri padat modal berskala besar. Nilai pasarnya mencapai puluhan triliun rupiah per tahun, namun nilai tambahnya terkonsentrasi pada segelintir pelaku industri dan wilayah tertentu.
“Genteng tanah liat memiliki karakter berbeda. Produksinya berbasis keluarga dan klaster IKM di desa, menyerap banyak tenaga kerja, serta menggunakan bahan baku lokal,” ujar Sirod dalam keterangannya .
Ia menjelaskan, kebijakan gentengisasi berpotensi menggeser struktur permintaan ke arah industri padat karya. Meski nilai ekonomi per unit relatif kecil, distribusi pendapatan dinilai lebih merata dan berdampak langsung pada penguatan ekonomi desa.
Dari sisi kapasitas, industri genteng rakyat saat ini diperkirakan baru mampu memproduksi sekitar 200–250 juta unit per tahun, sementara kebutuhan nasional untuk pembangunan dan renovasi rumah mendekati satu miliar unit per tahun. Kondisi ini, menurut Sirod, justru membuka peluang pengembangan sentra produksi baru di luar Jawa serta modernisasi teknologi produksi genteng.
“Dengan permintaan yang stabil dan terprediksi, IKM genteng dapat berinvestasi pada tungku bakar yang lebih efisien, peningkatan kualitas produk, hingga penguatan kelembagaan melalui koperasi atau BUMDes,” jelasnya.
Selain berdampak pada sektor industri dan ketenagakerjaan, gentengisasi juga dinilai memiliki manfaat lingkungan. Genteng tanah liat memiliki karakter termal yang lebih baik dibanding atap logam, sehingga membantu menurunkan suhu ruangan dan konsumsi energi rumah tangga.
Namun demikian, Sirod menekankan bahwa keberhasilan gentengisasi sangat bergantung pada koordinasi lintas kebijakan, mulai dari standar teknis perumahan, skema pembiayaan rumah subsidi, hingga kebijakan industri nasional. Tanpa integrasi yang kuat, permintaan yang diciptakan berisiko bersifat sementara.



