JAKARTA, MAHATVA.ID – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyampaikan apresiasi atas keberhasilan pengeboran Sumur Horizontal Low Quality Reservoir (LQR) Yvonne A-12Hz yang dioperasikan oleh Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES). Sumur tersebut berhasil memproduksikan minyak hingga 528 barel minyak per hari (BOPD), melampaui target awal produksi.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan, capaian tersebut merupakan bukti nyata bahwa pengembangan reservoir dengan kualitas rendah masih memiliki potensi besar apabila didukung oleh perencanaan teknis yang matang dan kolaborasi yang solid.
“Keberhasilan pengeboran sumur horizontal LQR Yvonne A-12Hz ini menunjukkan bahwa dengan penerapan teknologi yang tepat, perencanaan subsurface yang komprehensif, serta sinergi antara SKK Migas dan KKKS, reservoir dengan kualitas rendah tetap dapat memberikan hasil yang signifikan,” ujar Djoko Siswanto dalam keterangannya, Sabtu (7/2/2026).
Djoko menjelaskan, sumur tersebut menargetkan lapisan karbonat pada Formasi Upper Baturaja yang secara karakteristik memiliki porositas dan permeabilitas rendah, sehingga sebelumnya dikategorikan sebagai reservoir dengan tingkat risiko tinggi. Namun, melalui pendekatan best practices dan inovasi teknologi, sumur mampu mengalirkan minyak secara natural tanpa stimulasi, dengan water cut 0 persen.
“Ini merupakan pencapaian teknis yang sangat baik, karena sumur LQR ini dapat langsung diproduksikan dengan performa di atas target initial production,” tambahnya.
Lebih lanjut, Djoko menyampaikan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari peran Tim Task Force LQR SKK Migas yang secara intensif melakukan pendampingan mulai dari studi subsurface, perencanaan konstruksi sumur, penempatan sumur horizontal, hingga monitoring dan optimasi produksi.
SKK Migas menilai, keberhasilan di Lapangan Yvonne-A dapat menjadi model pengembangan Low Quality Reservoir di wilayah kerja lain di Indonesia. Pada tahun 2026, PHE OSES direncanakan akan mengebor enam sumur horizontal LQR, di mana saat ini pemboran sumur horizontal kedua telah mulai dilakukan dan masuk dalam rencana kegiatan WPNB 2026.
“Pengembangan LQR merupakan salah satu strategi penting untuk menjaga dan meningkatkan produksi minyak nasional, khususnya dalam jangka pendek hingga menengah. SKK Migas akan terus mendorong seluruh KKKS untuk mengoptimalkan potensi LQR melalui inovasi dan penerapan teknologi yang tepat,” tegas Djoko.
Dengan capaian tersebut, SKK Migas optimistis bahwa pengembangan reservoir LQR secara masif dan terstruktur dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan lifting minyak nasional, sekaligus mendukung ketahanan energi Indonesia.



