MAHATVA.ID – Pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran pada Sabtu lalu, sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) dilaporkan meragukan bahwa operasi militer AS dan Israel terhadap Republik Islam Iran akan berujung pada perubahan pemerintahan dalam waktu dekat.

Sebelum dan sesudah serangan dimulai, pejabat AS—termasuk Presiden —sempat mengisyaratkan bahwa menumbangkan sistem pemerintahan Iran yang represif merupakan salah satu tujuan strategis Washington, selain melumpuhkan program rudal balistik dan nuklir Iran.

Namun demikian, tiga pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen menyebut terdapat skeptisisme serius bahwa oposisi Iran yang saat ini terfragmentasi dan melemah mampu menggulingkan sistem teokratis otoriter yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.

CIA: Rezim Iran Belum di Ambang Runtuh

Laporan (CIA) yang dipresentasikan kepada Gedung Putih beberapa minggu sebelum serangan menyimpulkan bahwa jika Khamenei tewas, kepemimpinan Iran kemungkinan besar akan beralih ke tokoh-tokoh garis keras dari (IRGC) atau ulama konservatif dengan pandangan serupa.

“Pejabat IRGC tidak mungkin menyerah secara sukarela, terutama karena mereka diuntungkan oleh jaringan perlindungan luas yang menjaga loyalitas internal,” ujar seorang pejabat AS, dikutip Reuters, Senin (2/3/2026).

Penilaian tersebut sejalan dengan laporan intelijen lain yang mencatat tidak adanya pembelotan IRGC selama gelombang besar protes anti-pemerintah pada Januari lalu, meskipun aksi tersebut ditanggapi dengan represi keras oleh aparat keamanan Iran. Para analis menilai pembelotan aparat keamanan merupakan prasyarat utama bagi keberhasilan sebuah revolusi.

Washington Tidak Melihat Kejatuhan Rezim dalam Waktu Dekat

Meski tidak sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan runtuhnya pemerintah Iran—yang kini terpukul oleh kehilangan personel kunci dan ketidakpopuleran akibat represi berdarah—para pejabat AS menegaskan bahwa keruntuhan rezim masih jauh dari kata dekat.