MAHATVA.ID — Iran berpotensi menghadapi tekanan militer yang lebih luas. Selain Amerika Serikat (AS) dan Israel, tiga negara Eropa—Prancis, Jerman, dan Inggris—menyatakan kesiapan untuk membela kepentingan mereka serta sekutu di kawasan Teluk dengan mengambil “tindakan defensif” terhadap Iran bila diperlukan.

Dalam pernyataan bersama yang dimuat AFP, Senin (2/3/2026), para pemimpin ketiga negara itu mengaku terkejut atas serangan rudal dan drone Iran yang dinilai tanpa pandang bulu dan tidak proporsional, termasuk ke negara-negara yang tidak terlibat dalam operasi militer awal AS–Israel.

“Serangan sembrono Iran telah menargetkan sekutu dekat kami dan mengancam personel militer serta warga sipil kami di seluruh kawasan,” bunyi pernyataan bersama tersebut.

Mereka menyerukan Iran untuk segera menghentikan serangan, seraya menegaskan kesiapan mengambil langkah-langkah pembelaan yang diperlukan dan proporsional, termasuk menghancurkan kemampuan Iran meluncurkan rudal dan drone dari sumbernya. Ketiganya juga menyatakan telah sepakat untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sekutu kawasan dalam merespons situasi ini.

Serangan ke Negara Teluk

Iran dilaporkan melancarkan rangkaian serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk dengan klaim menargetkan pangkalan AS, menyusul serangan AS–Israel terhadap Iran sejak Sabtu lalu. Seorang juru bicara militer Jerman menyebut serangan Iran menghantam pangkalan militer multinasional dekat Arbil, Irak utara, serta kamp tentara Jerman di timur Yordania—tanpa laporan korban jiwa.

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan serangan “skala besar” pada Minggu. Ledakan dilaporkan terdengar di Riyadh, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Manama, Yerusalem, dan Tel Aviv.

Teheran: “Deklarasi Perang”

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran sebagai “deklarasi perang terhadap Muslim”, seraya memperingatkan bahwa Iran menganggap pembalasan sebagai hak dan kewajiban yang sah.