MAHATVA.ID – Kebocoran pipa gas yang dikelola PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) berdampak signifikan terhadap produksi minyak di Blok Rokan, salah satu blok migas terbesar di Indonesia. Pasokan gas dari pipa TGI selama ini menjadi tulang punggung operasional Blok Rokan, khususnya untuk pembangkit listrik yang menggerakkan pompa angguk serta produksi uap panas (steam) di Lapangan Duri.

Informasi yang diterima menyebutkan, saat pasokan gas terhenti pada Jumat (2/1/2026), produksi minyak Blok Rokan anjlok hingga sekitar 50 ribu barel per hari (bph). Angka tersebut jauh di bawah produksi normal yang rata-rata mencapai 150 ribu bph.

Deputi Eksploitasi SKK Migas, Taufan Marhaendrajana, mengungkapkan bahwa sejak awal pekan ini produksi minyak Blok Rokan mulai mengalami peningkatan.

“Ya, sempat di 50 ribuan barel per hari, tapi kemarin sudah naik ke sekitar 70 ribuan barel per hari,” kata Taufan, Rabu (7/1/2026).

SKK Migas menargetkan perbaikan pipa gas TGI dapat diselesaikan pada pekan ini sehingga produksi minyak Blok Rokan bisa kembali ditingkatkan. Meski demikian, Taufan menegaskan proses pemulihan produksi tidak bisa dilakukan secara instan.

“Bertahap (menaikkan produksi minyak), semoga cepat transisinya,” ujarnya.

Blok Rokan merupakan lapangan migas yang tergolong mature, namun masih memiliki cadangan yang sangat besar. Saat ini, sebagian besar produksi minyak dihasilkan dari sumur-sumur tua yang memanfaatkan ribuan pompa angguk. Sementara di Lapangan Duri, metode steam flood atau injeksi uap panas masih menjadi andalan untuk mengangkat minyak dari reservoir.

Kedua metode tersebut membutuhkan pasokan energi yang sangat besar. Selama ini, Blok Rokan mengandalkan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik serta fasilitas produksi uap panas.

Total kebutuhan listrik Blok Rokan mencapai 430 megawatt (MW). Pasokan listrik tersebut berasal dari PLTG North Duri Cogen MCTN berkapasitas 300 MW, serta dukungan PLTG Minas dan Central Duri sebesar 130 MW.