Jakarta, MAHATVA.ID — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menatap tahun 2026 dengan penuh optimisme. Setelah berhasil mencapai target produksi minyak 605 ribu barel per hari (MBOPD) pada 2025, SKK Migas kini menyiapkan langkah agresif untuk menjaga momentum sekaligus mengakselerasi peningkatan produksi migas nasional.
Optimisme tersebut disampaikan Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, dalam CEO Forum 2026 bertema Aligning Plans, Executing with Confidence, Delivering Production Targets.
Menurut Rikky, industri hulu migas nasional kini berada di titik krusial. Tantangan ke depan tidak ringan, namun dapat dijawab dengan perencanaan yang selaras dan eksekusi yang disiplin.
“Produksi migas 2026 berada di persimpangan penting. Kita harus melawan tren penurunan alamiah lapangan sekaligus memastikan proyek-proyek baru benar-benar onstream tepat waktu,” ujar Rikky dalam paparannya, seperti dikutip dari ruangenergi.com.
Target Produksi dan Tantangan Besar
Untuk tahun 2026, SKK Migas menargetkan lifting minyak 610 MBOPD dan gas 5.510 MMSCFD. Di balik target tersebut, terdapat tantangan besar mulai dari penurunan alamiah produksi lapangan, volatilitas pasar energi global, hingga kompleksitas regulasi dan isu lingkungan.
Namun demikian, SKK Migas memilih pendekatan khas Indonesia: gotong royong. Kolaborasi erat antara pemerintah, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), serta para pemangku kepentingan lainnya diyakini menjadi kunci menjaga keberlanjutan produksi migas nasional.
Ribuan Aktivitas Hulu Migas Digeber
Sebagai bagian dari strategi akselerasi, SKK Migas memacu mesin hulu migas melalui aktivitas masif sepanjang 2026. Tercatat, sebanyak 832 sumur pengembangan, 942 workover, serta lebih dari 38 ribu kegiatan well services direncanakan berlangsung di berbagai wilayah kerja.

.png)