MAHATVA.ID -Pasar Tradisional Omele Sifnana, yang dulu menjadi pusat denyut ekonomi rakyat di Kecamatan Tanimbar Selatan, kini seakan berhenti berdetak. Lapak-lapak kosong, pembeli nyaris tak ada, dan pedagang hanya bisa bertahan demi memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Senin (19/5/2025)

Penurunan tajam daya beli masyarakat Tanimbar menjadi sinyal kuat bahwa kondisi ekonomi daerah sedang berada di titik kritis. “Sekarang jualan hanya cukup untuk makan, untung tak ada, modal pun habis,” ujar Tekla seorang pedagang pisang asal Zasira, pesisir timur Yamdena, dengan suara getir.

Sepinya Pasar Omele: Gejala Krisis Ekonomi Rakyat

Pasar Omele Sifnana kini menjadi potret nyata keterpurukan ekonomi rakyat. Daya beli yang melemah menjalar ke semua lini, dari pembeli yang tak lagi datang, hingga pedagang kecil yang kini menggantungkan hidup dari penjualan seadanya.

“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan cuma pasar yang mati, tapi seluruh ekonomi desa akan ikut runtuh,” ungkap seorang tokoh masyarakat Tansel yang prihatin melihat pasar sepi setiap hari.

Pasca Kebakaran dan Akses Rusak: Dua Luka yang Belum Sembuh

Kondisi semakin diperparah oleh musibah kebakaran besar yang menghanguskan 10 blok barak pedagang dan nelayan pada 13 November 2024 lalu. Sebanyak 180 petak kamar yang jadi pemukiman pelanggan utama pasar turut lenyap, membuat jumlah pembeli menurun drastis.

Kadang kami bermalam di pasar karena pembeli sedikit. Biaya makan selama di sini pun makin membebani,” kata seorang penjual hasil kebun.

Selain itu, kondisi jalan menuju Pasar tradisional Omele Sifnana yang rusak parah juga memperburuk situasi. Akses utama yang seharusnya mendukung pergerakan barang dan orang justru menjadi hambatan. Warga dari desa-desa sekitar hingga Kota Saumlaki mengeluhkan jalan berlubang dan licin, yang kerap membahayakan pengguna kendaraan roda dua dan empat.