JAKARTA, MAHATVA.ID –Muhammad Sirod, teknokrat yang juga menjabat sebagai fungsionaris KADIN Indonesia dan Dewan Keinsinyuran Utama (DKU) di bawah Persatuan Insinyur Indonesia (PII), mengajak publik untuk melihat proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh sebagai investasi peradaban, bukan semata proyek transportasi. Minggu, (06/07/2024).
“Ini bukan hanya kereta cepat,” tegas Sirod.
“tapi eksperimen geopolitik, ekonomi perkotaan, dan transfer teknologi dalam satu paket," lanjutnya.
Sejak beroperasi secara komersial pada Oktober 2023, Whoosh telah mencatatkan lonjakan signifikan, dengan lebih dari 10 juta penumpang hingga Juni 2025. Menurut Sirod, angka ini mencerminkan perubahan perilaku masyarakat urban terhadap efisiensi waktu dan mobilitas.
Dari sisi ekonomi, ia mencatat kontribusi Whoosh terhadap wilayah operasional (Jakarta dan Jawa Barat) mencapai USD 0,5–1,0 triliun per tahun, melalui efisiensi logistik, peningkatan produktivitas antarwilayah, dan nilai tambah properti.
“Properti di sekitar stasiun Halim, Karawang, dan Padalarang naik 15–20% dalam dua tahun. Jika TOD dioptimalkan, nilainya bisa naik dua kali lipat,” jelasnya.
Namun, ia juga realistis soal pembengkakan biaya proyek sebesar 27%, dari USD 7,3 miliar menjadi USD 9,3 miliar. Biaya ini dipicu oleh kondisi geografis rumit dan struktur elevated track yang mencakup 45% jalur.
“Ini bukan sekadar membangun rel, tapi juga manajemen risiko geologi, sosial, dan fiskal yang sangat kompleks,” ujarnya.




