MAHATVA.ID - Kekuasaan pada dasarnya adalah amanah. Ia diberikan untuk mengatur, melayani, dan mengambil keputusan demi kepentingan yang lebih besar. Namun dalam praktiknya, kekuasaan sering kali membawa dampak psikologis yang tidak disadari oleh pemegangnya. Fenomena inilah yang dikenal sebagai power syndrome atau sindrom kekuasaan.

Power syndrome bukan istilah medis, melainkan konsep sosial dan psikologis yang menggambarkan perubahan perilaku seseorang setelah memiliki kekuasaan. Seseorang yang sebelumnya rendah hati, terbuka, dan rasional bisa berubah menjadi arogan, tertutup terhadap kritik, dan merasa paling benar.

Kekuasaan yang Memabukkan

Banyak pakar menyebut kekuasaan sebagai sesuatu yang “memabukkan”. Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula potensi distorsi cara pandang seseorang terhadap realitas. Kekuasaan memberi akses, privilese, dan kontrol—yang bila tidak disertai etika dan pengawasan, dapat melahirkan ilusi superioritas.

Lord Acton pernah mengingatkan dunia dengan ungkapannya yang terkenal: “Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.” Kekuasaan cenderung merusak, dan kekuasaan absolut merusak secara mutlak.

Gejala Power Syndrome

Power syndrome biasanya muncul secara bertahap dan sering kali tidak disadari. Beberapa gejala yang umum terlihat antara lain: