MAHATVA.ID– Awal pekan ini, pasar keuangan Indonesia disambut kabar positif dari pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah dibuka menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menyentuh level Rp16.400 per dolar AS, atau naik 0,52% dibanding penutupan akhir pekan lalu di Rp16.485.
Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa penguatan rupiah ini terjadi seiring dengan penurunan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,31% ke level 98,83 pada pukul 09.00 WIB. Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (1/8), DXY tercatat merosot 0,83% ke posisi 99,14 setelah sempat menyentuh level psikologis 100,25.
Pelemahan dolar AS utamanya dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan AS yang berada jauh di bawah ekspektasi pasar. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan hanya ada penambahan 73.000 pekerjaan non-pertanian sepanjang Juli 2025, jauh lebih rendah dari estimasi konsensus sebesar 110.000 pekerjaan. Sementara itu, data bulan Juni juga direvisi tajam dari 147.000 menjadi hanya 14.000 pekerjaan.
Menanggapi data tersebut, Presiden AS Donald Trump mengambil langkah mengejutkan dengan memecat Komisaris Biro Statistik Tenaga Kerja AS, Erika L. McEntarfer, yang diketahui merupakan pilihan dari mantan Presiden Joe Biden. Langkah ini memicu perdebatan tajam di kalangan ekonom dan politisi AS.
Dari sisi domestik, pasar menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS). Meski demikian, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan bahwa stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga di tengah tekanan eksternal.
Namun demikian, sejumlah analis memperkirakan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan bahwa laju pertumbuhan tahunan kuartal II 2025 akan turun menjadi 4,67% dari 4,87% pada kuartal sebelumnya. Meski demikian, surplus perdagangan bulan Juni yang mencapai US$4,1 miliar dinilai mampu menjadi penopang stabilitas ekonomi jangka pendek, terutama karena dorongan ekspor menjelang kenaikan tarif dari AS.
Tren positif ini diharapkan mampu memberikan momentum bagi pemulihan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan. Namun para pelaku pasar dan otoritas moneter diingatkan untuk tetap waspada terhadap dinamika global serta potensi dampak kebijakan tarif dan geopolitik internasional terhadap perekonomian nasional.


