MAHATVA.ID – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara resmi mengumumkan kebijakan tarif balasan besar-besaran terhadap mitra dagang AS. Langkah ini, yang disebut Trump sebagai awal dari "era keemasan" baru, bertujuan untuk mengembalikan industri manufaktur ke AS dengan meningkatkan daya saing produk dalam negeri.

Namun, kebijakan ini menjadi pukulan besar bagi negara-negara eksportir di Asia, termasuk China, Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam. Asia Tenggara juga terkena dampaknya, dengan enam negara di kawasan ini menghadapi tarif impor tinggi, berkisar antara 32% hingga 49%.

Dampak Tarif AS bagi Asia Tenggara

Negara-negara di Asia Tenggara, seperti Vietnam dan Thailand, telah berkembang sebagai pusat manufaktur global. Dengan meningkatnya tarif impor, daya saing mereka berisiko tergerus.

Vietnam, sebagai pusat produksi bagi Apple, Samsung, dan Nike, menghadapi tarif baru 46% yang dapat mengurangi daya tariknya sebagai lokasi manufaktur.

Indonesia dikenakan tarif 32%, yang menurut Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, berpotensi "memicu resesi ekonomi."

Kamboja termasuk yang paling terdampak dengan tarif 49%, yang disebut sebagai "tidak masuk akal" oleh pemerintahnya.

Singapura terkena tarif dasar 10%, meskipun memiliki surplus perdagangan $2,8 miliar dengan AS.

Taiwan, dengan surplus perdagangan $73,9 miliar, dikenai tarif 32%, meskipun ekspor semikonduktornya tidak terdampak.