MAHATVA.ID -Perjalanan panjang Akhmad Munir, atau yang akrab disapa Cak Munir, akhirnya menorehkan sejarah baru dalam dunia pers Indonesia. Pada Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Persatuan yang digelar di Cikarang, Jawa Barat, 30 Agustus 2025, Munir resmi terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat periode 2025–2030.
Kemenangan ini mengakhiri penantian panjang sekaligus lika-liku perjuangan Munir, setelah dua kali gagal dalam perebutan kursi Ketua Umum PWI pada Kongres Solo 2018 dan Bandung 2023.
Kiprah Panjang Seorang Cak Munir
Bagi insan pers, nama Cak Munir bukan sosok asing. Kepemimpinannya di PWI Jawa Timur tercatat sukses besar. Ia dikenal sebagai figur yang mampu mengembangkan organisasi sekaligus memperjuangkan kompetensi wartawan. Bahkan, berkat inisiatifnya, sejumlah wartawan Jawa Timur bisa melanjutkan studi hingga ke jenjang S2 melalui program beasiswa.
Saya pribadi tidak begitu dekat dengan beliau, hanya sesekali bertegur sapa lewat pesan WhatsApp. Namun, sejak Konferensi PWI di Solo 2018, nama Munir mulai diperhitungkan sebagai calon ketua umum. Saat itu, ia kalah tipis dari Atal S. Depari. Lima tahun berselang, pada Kongres PWI 2023 di Bandung, Munir kembali mencoba peruntungan, tetapi kemenangan jatuh ke tangan Hendri Ch. Bangun.
PWI Terbelah dan Jalan Menuju Persatuan
Sayangnya, masa kepemimpinan Hendri tak berjalan mulus. PWI mengalami dualisme kepengurusan yang membawa dampak serius: kantor PWI di Gedung Dewan Pers tak bisa digunakan, organisasi tak diakui untuk mengutus perwakilan ke Dewan Pers, hingga Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sempat terhenti.
Kondisi itu memicu kesadaran kolektif bahwa PWI harus kembali bersatu. Kongres Persatuan di Cikarang menjadi jalan keluar. Dua kandidat kuat kembali bertarung: Munir dan Hendri. Meski awalnya Hendri unggul dukungan, hasil akhir berpihak pada Munir yang menang telak dan sah memimpin PWI Pusat 2025–2030.


