Bogor, MAHATVA.ID – Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, menegaskan kuatnya hubungan historis antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam menjaga kedaulatan negara. Hal tersebut disampaikan Sjafrie saat menghadiri Retret PWI 2026 di Pusat Kompetensi Bela Negara, Cibodas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026).
Di hadapan ratusan wartawan dari seluruh Indonesia, Sjafrie menyebut kehadiran insan pers di kawasan bela negara bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, pers dan militer memiliki ikatan sejarah panjang sejak masa Perang Kemerdekaan.
“Kita mempunyai hubungan historis antara TNI dan PWI sejak masa perjuangan. Saya bangga melihat semangat Bapak dan Ibu sekalian. Untuk bela negara, semangat adalah modal utama,” ujar Sjafrie.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertahanan juga memaparkan upaya penguatan postur pertahanan nasional melalui Komponen Cadangan (Komcad). Ia menyebut, sebanyak 4.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai kementerian telah mengikuti pelatihan bela negara.
Program pelatihan Komcad ini dirancang berlangsung secara berkala setiap triwulan dan diproyeksikan menjadi kekuatan pengganda bagi TNI dalam menjaga pertahanan negara.
Sjafrie menilai langkah tersebut semakin krusial di tengah situasi global yang kian tidak menentu. Ia menyoroti persaingan antar kekuatan besar dunia yang kini tidak lagi sebatas ekonomi, melainkan telah mengarah pada potensi konflik bersenjata.
Beberapa konflik global pun disinggung, mulai dari situasi di Gaza hingga ketegangan kawasan ASEAN, seperti perselisihan perbatasan antara Kamboja dan Thailand. Meski demikian, Sjafrie menegaskan bahwa dialog tetap menjadi kunci utama penyelesaian konflik, dengan catatan para pemimpin kawasan mampu membaca dinamika geopolitik secara cermat.
Dalam pesannya kepada insan pers, Sjafrie mengingatkan pentingnya pembaruan informasi secara cepat dan akurat. Ia bahkan menggunakan istilah “TikTok Ancaman” untuk menggambarkan karakter ancaman modern yang datang secara tiba-tiba dan sulit diprediksi.
“Insan pers jangan sampai ketinggalan informasi. Kita tidak tahu kapan ‘TikTok ancaman’ itu menyentuh kita. Jika itu terjadi, kita harus punya antisipasi. Hal paling utama adalah menjaga kepentingan nasional,” tegasnya.


