Bogor, MAHATVA.ID – Pasokan rumah seken atau rumah secondary market mengalami lonjakan signifikan sepanjang Semester II 2025. Tekanan ekonomi, mulai dari kenaikan biaya hidup hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), menjadi faktor utama yang mendorong pemilik properti melepas aset mereka.

Berdasarkan laporan Pinhome Indonesia bertajuk Indonesia Residential Market Report Semester 2025 & Outlook 2026, inventori rumah seken meningkat rata-rata 5 persen setiap bulan sepanjang paruh kedua 2025.

Wilayah penyangga DKI Jakarta menjadi kontributor terbesar. Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Tangerang Selatan masing-masing menyumbang 8 persen dari total penambahan pasokan rumah seken. Disusul Kota Bekasi (7 persen), Jakarta Selatan dan Jakarta Timur (masing-masing 6 persen), Kota Bandung dan Kabupaten Bekasi (5 persen), serta Kota Surabaya dan Kabupaten Tangerang (4 persen).

CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menjelaskan bahwa tekanan ekonomi sepanjang 2025 menjadi pendorong utama meningkatnya penjualan rumah secondary.

“Tekanan ekonomi yang terjadi sepanjang 2025, mulai dari gelombang PHK di berbagai sektor industri hingga kenaikan biaya hidup, mendorong sebagian pemilik properti untuk melepas aset hunian mereka guna menjaga likuiditas,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/2/2026).

Banyak Listing “BU” dan Harga di Bawah Pasar

Lonjakan pasokan juga ditandai dengan meningkatnya listing berlabel “Butuh Uang (BU)” dan “Jual Cepat”, serta penawaran harga di bawah pasar. Fenomena ini menciptakan standar harga baru yang lebih kompetitif.

Akibatnya, pemilik rumah lain terpaksa melakukan penyesuaian harga agar tetap menarik bagi calon pembeli. Kondisi tersebut memicu penurunan rata-rata harga rumah secara bertahap di sejumlah kawasan padat hunian, termasuk Kabupaten Bogor yang menjadi salah satu pasar properti terbesar di Jabodetabek.

Pasokan Rumah Baru Turun 14 Persen