JAKARTA, MAHATVA.ID – Garuda Indonesia, maskapai kebanggaan nasional yang telah menjadi simbol negara selama puluhan tahun, kini berada di titik kritis. Kerugian kuartalan yang mencapai Rp 1,2 triliun di awal 2025, ekuitas negatif USD 1,4 miliar, dan lebih dari 40 armada tak aktif menandai kondisi Garuda yang secara teknis masuk kategori insolven.
Muhammad Sirod, Fungsionaris KADIN Indonesia dan Ketua Umum HIPPI Jakarta Timur, menyoroti bahwa penanganan Garuda saat ini melalui suntikan dana Maintenance, Repair & Overhaul (MRO) senilai USD 405 juta dari Danantara, sovereign wealth fund baru Indonesia, bersifat tambal sulam.
“Ini ibarat pasien sekarat yang diberi vitamin. Padahal yang dibutuhkan adalah operasi besar,” kata Sirod dalam analisanya yang mengacu pada laporan Dilema Maskapai Nasional.
Langkah-langkah penyelamatan melalui pembentukan entitas baru (NewCo) dinilai sebagai pendekatan yang lebih rasional dan berorientasi jangka panjang. Strategi ini telah terbukti efektif dalam kasus Swissair–SWISS dan Alitalia–ITA Airways, di mana hanya aset sehat yang diwariskan, utang lama ditinggalkan, dan efisiensi langsung ditingkatkan.
Sementara itu, pendekatan konservatif dan politis seperti yang dialami Malaysia Airlines, South African Airways, dan Air India hanya memperpanjang krisis tanpa perbaikan struktural.
Sirod menjelaskan, jika negara ingin menyelamatkan Garuda tanpa membebani APBN terus-menerus, maka solusinya adalah mendirikan Garuda Baru (NewCo):
- hanya mewarisi armada dan slot rute yang sehat
- memisahkan fungsi komersial dan sosial (PSO)
- melibatkan investor strategis asing (seperti Qatar Airways, Emirates, atau ANA)
- menargetkan exit strategy dalam 5–7 tahun dengan IRR minimal 12%
Simulasi perbandingan arus kas menunjukkan bahwa strategi NewCo lebih unggul. Pada 2029, strategi MRO-only menghasilkan surplus USD 1,6 miliar, sedangkan NewCo bisa menembus USD 3,2 miliar.
“Kita tidak sedang bicara romantisme nasionalisme, tapi rasionalitas fiskal dan tata kelola,” tegas Sirod.




