Jakarta, MAHATVA.IDPT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinilai relatif tahan banting (resilient) di tengah tekanan harga batu bara global, berkat dukungan pertumbuhan pasar domestik yang kuat. Seiring dengan itu, saham PTBA masih menawarkan potensi dividen menarik bagi investor.

Berdasarkan riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, PTBA membukukan pendapatan Rp31,3 triliun selama periode Januari–September 2025 (9M25), tumbuh 2 persen secara tahunan (yoy). Kinerja tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan batu bara, meskipun tertahan oleh penurunan average selling price (ASP).

“Pendapatan dari pasar domestik meningkat 17 persen yoy menjadi Rp15,8 triliun, mencerminkan permintaan dalam negeri yang masih solid. Sebaliknya, pendapatan ekspor turun 9,3 persen yoy menjadi Rp15,5 triliun,” tulis Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, dalam riset yang dikutip Minggu (18/1/2026).

Tekanan Biaya Pangkas Profitabilitas

Di sisi lain, laba kotor PTBA terpangkas 36 persen yoy menjadi Rp3,57 triliun, seiring kenaikan biaya pendapatan (cost of revenue) sebesar 11 persen yoy. Kenaikan biaya tersebut dipicu oleh meningkatnya harga bahan bakar, logistik, serta jasa pertambangan, ditambah tekanan dari penurunan harga jual batu bara.

Secara operasional, produksi batu bara PTBA meningkat 9 persen yoy menjadi 35,9 juta ton, sementara volume penjualan naik 8 persen yoy menjadi 33,7 juta ton. Namun, ASP turun 6 persen yoy menjadi Rp0,91 juta per ton, sehingga membatasi pertumbuhan pendapatan.

Laba Bersih Tergerus

Tekanan margin berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan perseroan. EBIT PTBA anjlok 61 persen yoy menjadi Rp1,54 triliun, EBITDA turun 43 persen yoy menjadi Rp3,65 triliun, dengan margin EBITDA melemah ke 11,8 persen dari sebelumnya 17,1 persen.

Alhasil, laba bersih PTBA tergerus 57 persen yoy menjadi Rp1,39 triliun, dengan earnings per share (EPS) sebesar Rp121, turun 57 persen yoy.